Menyusul terjadinya peristiwa tewasnya dua orang pendaki asal kampus STIESIA (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia) Surabaya, pada beberapa waktu lalu membuat pihak Tahura R Soerjo Malang - Pasuruan mengeluarkan himbauan kepada para pendaki Gunung Arjuno-Welirang untuk masuk melalui jalur pendakian yang resmi.
Kepala UPT Tahura R Soerjo wilayah Malang-Pasuruan, Gatot Sundoro mengatakan, kalau himbauan itu dikeluarkan agar petugas Tahura bisa bertidak cepat jika para pendaki tersesat atau mengalami kecelakaan seperti yang dialami oleh dua pendaki yang ditemukan tewas di gunung kembar 2, pada Senin kemarin (27/1/2014).
"Sebab kalau melaui pos resmi, minimal kami bisa mencatat namanya. Dan tentunya kami juga akan tahu mereka mendaki lewat titik mana saja, serta berapa hari mereka akan melakukan pendakian. Sehingga tentunya dengan adanya itu akan memudahkan kami jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Karena kami sendiri bisa lebih gampang untuk monitor kalau lewat jalur resmi," ujarnya.
Gatot sendiri juga sangat menyayangkan peristiwa yang dialami dua mahasiswa asal kampus STIESIA tersebut. Yakni, Alif Hazen Rahmasyah (24), warga Jalan Pahlawan 6/10 Gresik dan Dian Mentiati (18), warga Karang Menjangan 1B /58 Surabaya.
"Saat itu mereka berdua naik ke gunung lewat jalur tak resmi. Padahal seharusnya mereka izin dulu di pos resmi. Hal itulah yang membuat kami sangat menyangkan. Semoga bagi pendaki yang lainnya bisa mengambil pelajaran dari peristiwa ini. Sehingga kedepan tidak ada lagi kejadian seperti ini,," ucap Gatot kepada beritajatim.com.
Dijelaskannya, kalau untuk naik ke kawasan Gunung Arjuno-Welirang, para pendaki bisa melalui tiga jalur resmi yang sudah ada di beberapa titik, antara lain yaitu; Pos Cangar Batu, Pos Tambaksari Purwodadi, dan Pos Tretes Prigen.
Selain itu, ia juga menambahkan dengan adanya izin melalui jalur resmi, tentunya membuat pihak Tahura akan bisa memberikan arahan pada para pendaki, terkait medan berat dan cuaca buruk yang terjadi di atas gunung. Karena kata dia jika pendaki lewat jalur tidak resmi, maka pihaknya tidak bisa bertanggung jawab apabila terjadi kecelakaan.
Hanya sekedar mereview kembali, kalau kedua mahasiswa asal STIESIA itu ditemukan tewas setelah tersesat selama 9 hari di gunung kembar. Mereka berdua sejatinya merupakan peserta kegiatan orientasi mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) asal STIESIA Surabaya yang dinyatakan hilang sejak Minggu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar